Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

FILOSOFI DIBALIK KUPAT DAN LEPET


FILOSOFI DIBALIK KUPAT DAN LEPET-Saling bersalaman saat saling meminta maaf sangat diajurkan oleh Rasulullah, karena ketika dua orang saling meminta maaf dan belum dilepas jabat tangannya maka Allah akan menghapus dosa keduanya. 

Setelah saling meminta maaf maka ucapkanlah Jaalallahu minal aizin wal faizin wal makbulin.  Jadi mintalah maaf terlebih dahulu baru karena ucapan tersebut bukanlah ucapan minta maaf tetapi doa. 

Saat ini banyak kesibukan dilakukan oleh manusia. Oleh karena itu diselenggarakan halal bi halal, yang isinya adalah mengumpulkan orang-orang dan saling meminta maaf secara bersama-sama. 

Para wali jaman dahulu menggunakan acara Kupat dan lepet sebagai simbol untuk saling memaafkan. 

Kupat bahan dasarnya adalah beras yang mempunyai sifat sulit bersatu, sama seperti sifat manusia yang sulit menyatukan kepentingan mereka. Namun demikian, manusia masih bisa disatukan. 

Ketika dijadikan kupat maka beras bisa disatukan membentuk sebuah kupat. Ketika sudah menjadi kupat maka sudah tidak lagi ada butiran-butiran nasi, semuanya sudah bergabung menjadi satu kupat. 

Maknanya adalah ketika sudah bersatu padu maka semua urusan kebaikan akan mudah dilakukan. 

Kondisi ini akan menciptakan rasa bahagia di dalam diri seseorang karena sudah tidak ada lagi rasa salah ataupun dosa kepada manusia lainnya. Kebahagiaan ini disimbolkan oleh janur yang menutupi kupat tersebut. 

Orang-orang akan memakan kupat dengan aneka macam lauk yang menggugah selera dan istimewa. 

Ini menunjukkan bahwa ketika sudah bersatu maka suatu masyarakat akan diperlakukan secara istimewa karena orang-orang yang sudah bahagia akan ingat kepada orang lain ketika mempunyai sesuatu yang enak. Rasulullah bersabda “Ketika memasak dan tetangganya mencium aroma memasak, maka perbanyaklah kuahnya dan bagikan kepada tetangga”.  

Memotong kupat dilakukan dari ujung ke ujung, yang berarti bahwa itu adalah lambang kewanitaan. 

Sebagai pasangannya adalah muncullah lepet yang menjadi simbol laki-laki. Lepet diikat tiga, ini juga menjadi simbol bahwa suatu saat manusia akan mati dan diikat tiga saat dibungkus dengan kain kafan. 

Lepet terasa enak karena dikasih banyak kelapa dan bumbu lainnya, maknanya adalah orang harus memberikan banyak manfaat bagi orang lain. Rasulullah bersabda “Jadilah orang yang banyak manfaatnya bagi orang lain”. 

Kupat dan lepet adalah simbol bahwa apa yang ada di dunia ini diciptakan secara berpasangan. Ada laki-laki dan perempuan, malam dan siang, besar dan kecil, baik dan buruk, senang dan susah dan sebagainya. 


Kitab NASOIH AL IBAD, Pengarang SYEH NAWAWI AL BANTANI.

Posting Komentar untuk "FILOSOFI DIBALIK KUPAT DAN LEPET"